Drama Musikal Ranca Darah
Scene 1 ( Kelas )
Suasana di kelas, saat pagi di SMA Tetris…..
Tiffany :
(gadis genit~Vidi
aldiano)Anak-anak, siapkah
kalian tuk besok?
Murid : Siap bu!! Siap bu!! Siap bu!! Siap bu!!
Tiffany
: datanglah ke s’kolah jam 7, bawa
perlengkapan secukupnya, gausah alay. (alay)
Murid : “(Yaiyalah~project pop)”
Murid-murid SMA Tetris akan berwisata ke Wanayasa..
Dhea :
(kamu~CJR )Eh kamu mau bawa apa buat ke wanayasa?
Kevin :
Ya yang dibutuhin aja, kan kata ibu guru kita gaboleh alay..
Dhea : “(okelah kalau begitu~warteg boys)”
Scene 2 ( Jalan menuju Wanayasa)
Keesokan harinya mereka berkumpul jam 07.00. Dan mereka
melakukan briefying oleh panitia.
Setelah itu, mereka langsung memulai perjalanannya. Setelah melewati setengah
dari perjalanan, mereka pun beristirahat sejenak.
Afina : (Kok gitu sih~indra B ft. Dewiq)Eh eh yuk duduk yuk, aku capek.
Bagus : ayo kita duduk, aku juga
sama.
Tiffany
: Hei, ngapain kalian disitu? Kalian
gatau ini tempat apa?
Dhea : Kami lagi istirahat bu..
Kevin : Iya bu, kita lagi capek nih. Bentaaaar
aja bu. Emang ini tempat apa bu?
Tiffany
: oh gitu. Iya ini itu daerah Rancadarah.(jeng jeng jeng jeng)i
Nurul : hah? Rancadarah? Tempat apaan itu bu?
Ceritain dong, kok kayanya rame.
Tiffany : yaudah deh sambil istirahat ibu ceritain yaa. Begini
ceritanya……………….....……………………………….
Rancadarah
adalah nama suatu tempat yang terletak antara Purwakarta dan Wanayasa. Ranca
kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya adalah Rawa. Rancadarah berarti
Rawadarah.Pada zaman dahulu ketika Indonesia sedang dijajah oleh Belanda,
kira-kira sekitar tahun 1710, Belanda
yang dalam hal ini adalah VOC menjadikan Wanayasa sebagai daerah cabang
perkebunan teh, sedangkan daerah pusat perkebunan teh tersebut berada di
Purwakarta.
(backsong : )
Scene
3 (Perkebunan teh)
Reno : “(Nyeri-nyeri~Darso)Aduh
aduh aduh … hidup kita makin susah…. Sampai kapan kita akan begini terus?”
Fatih : “Ya…. (pulangkan
saja~) Kita pasrahkan saja pada yang
mahakuasa dan yang maha adil.”
Ilham : “Tidak bisa…!!, kita harus melawan, (Pasti bisa~Citra Scholastika )Kita Pasti bisa.. (pasti bisa), Menghadapi dan Melawan si
Sheper Leau, Kita yakin pasti bisa..”
Reno : “(Cinta ini membunuhku~D’masiv) Bagaimana caranya untuk melumpuhkan si Sheper
Leau itu, kita sadari, kita tak sempurna, kita tak seperti si Belanda itu,
mereka hancurkan kita hingga begini, mereka membuat kita smakin menderita,
lelah hati ini dijajah terus, kita mesti bagaimana?”
Ilham : “Saya ingin kita semua menghiraukan perintah-perintah
petugas pengawas satu per satu, kalau mereka melawan (diam-diam suka~CherryBelle) kita diam-diam tikam m’reka, kita coba m’ndekat,
kita coba m’ndekati mereka, kita diam-diam tikam m’reka, semua kan indah,
seandainya kita bisa musnahkan mereka..aaa”
Fatih : “Kita bisa mati, kalau belanda tahu, kalau Sheper
Leau tahu, kita bisaaa matiii, kalau ketahuan merekaa . (aku bisa
mati~latinka)
Rafli : “(mungkin nanti~peterpan)Dan mungkin
kalau kita bunuh pimpinannya dahulu kita dapat leluasa tuk lumpuhkan si Sheper
Leau.”
Fatih : “Menurut saya itu adalah tindakan bunuh diri,
apabila anak buah Sheper Leau lolos dan melaporkan kepimpinan VOC.”
Reza : “Tidak ada cara lain untuk kita, kecuali… (Beraksi~Kotak)Semua
berdiri, waktunya berontak, Penindasan kekerasaan gak jaman, Kami datang bawa banyak
pasukan, Ciptakan suasana tak terlupakan, Lantangkan suaramu dan teriakkan, Alunan
meriam, kita pun berontak, Yang ada disana, yang ada disini, Semua ikut
berontak, Hey, yang datang disini ayo kita bangkit , Bangkit dari penjajahan,
Berontak”.
Reno : “(Air dan Api~Naif)Apakah
kita siap nerima semua resiko dari Belanda?”
Reza : “Daripada kita hidup seperti ini terus?”
Fatih : “Kita tak mungkin biarkan merekaa.”
Ilham : “Mungkin kita juga perlu tempat lebih aman.”
Reno : “Kelemahan Belanda adalah peperangan dalam hutan,
jadi bagaimana kalau kita
Mengungsikan para wanita dan anak-anak di
pedalaman hutan?”
Ilham : “Ok, saya percayakan hal ini kepada kamu..! kalau begitu
kita bentuk rencana dan strategi serta tugas-tugas.”
Song : …
(maksim-croation rhapsody)Pada malam itu mereka menyusun rencana secara diam-diam,
untuk menghindari kecurigaan dari Tommy. Di lain tempat, Reno mengadakan perkumpulan
dengan para wanita, di malam berikutnya.
Scene 4 (Rumah
Reno)
Reno : “(lupa bawa nyali~the finest tree)Selamat
malam, saya datang kesini dengan maksud untuk mengajak kalian semua agar dalam
beberapa hari kedepan bersembunyi di pedalaman hutan, para petani teh akan melakukan
perlawanan terhadap VOC, demi keamanan dan
kesejahteraan kami harap kalian andil.”
Istri Reno : “Bagaimana dengan anak-anak, siapa yang akan menjaganya,
lalu apakah makanan, serta kebutuhan dapat terpenuhi?”
Reno : “Jangan khawatir, untuk semua itu kami sudah merencanakan dan
di dalam hutan kami persiapkan pengawas bersenjata.”
Istri Fatih : “(takkan
menyerah~Seventeen)Apa yang harus kita lakukan Kalau VOC tahu keberadaan
kita, sgala upaya tlah kita lakukan untuk melawan mereka, karna kita tak mau di
jajah, walau kita rakyat jelataa, tak akan menyerah, tak akan berhenti tuk
lawan mereka..”
Reno : “Tenang saja, para petani dan perempuan berada di tempat
yang berbeda, sehingga kalau kalian ketahuan kalian masih bisa melarilakan diri,
pokoknya kalian menuruti instruksi dari kami, dan tolong jangan beritahu kepada
siapapun, mengerti?”
Afifah : “Ok, tapi setelah pertempuran selesai, cepat beritahu kita
semua.”
Reno : “Sudahlah kalian semua tenang saja, pokoknya rahasiakan hal
ini. Soal pelaksanaannya, nanti akan kami beritahu.”
Semua wanita :”(Ok~T2)aaahh ok… aaahhh ok….”
Song : …
Keesokan harinya,
Ilham dan Reno menyusun strategi cadangan sembari bekerja. Beberapa saat kemudian,
pengawas datang.
Scene 5
(Perkebunan teh)
Pengawas :”(makan apa~)Hei kalian! Sedang apa? Sedang apa?
Sedang apa kalian? jangan mengobrol terus atau akan dipecut!”
Reno
& Fatih :”(demi
waktu~ungu)Maafkan kami, kami hanya bergurau, tak akan mengulangi
kesalahan ini. Seandainya bila kami mengulangi………. (suara
pecut)”
Pengawas :”Yasudah, cepat kembali bekerja!”
Reno
& Fatih :”Baik meneer.”
Pengawas :”(kamseupay~lollipop)”
petani yang
lainnya menghampiri Pengawas lalu….
Pengawas :”Ngapain kalian kesini! Cepat kembali
bekerja atau kalian akan kami hukum!”
Fathoni :”Alah…
Banyak omong…!!!”
Dengan diam-diam petani
tersebut menikam sang Pengawas lalu membuang mayatnya ke sungai agar tidak dicurigai
oleh pengawas yang lain. Dan petani pun kembali bekerja.(Berhasil Berhasil Horee Horee)
Malam harinya, Ilham
kembali berunding dengan yang lainnya.
Scene 6 (Rumah
Ilham)
Ilham :”(Apa-apanya
dong~seurieus)Apa apa apa kalian punya rencana yang lain?”
Fatih :”Kita kita kita harus memerlukan senjata tambahan, tapi tapi
tapi bagaimana caranya caranyaaa?”
Reza :”(jangan
mau-mau~Setia Band)Tenang tenang saja, di kota ada
gudang senjata VOC. Bagaimana kalau kita jarah?”
Fatih :”Tapi apa kita dapat mengalahkan para penjaganya
yang pada sangar-sangar?”
Reno :”Tenang saja tenang sajaa. Saat kita sedang melakukan huru-hara, para penjaga
akan ikut menjaga keamanan sehingga
gudang senjata dan penjara tidak ada penjagaan yang sangat ketat.”
Ilham :”Penjara? Apa maksudmu?”
Reno :”Begini Ilham, kalau kita serang penjara dan membebaskan semua
tahanan, besar kemungkinan kita akan dibantu.”
Reza :”Wah benar juga tuh, ide yang bagus. Jadi setelah kita
memberontak di Wanayasa, kita langsung menyerang Purwakarta, dengan begitu kita
akan dapat dengan mudah mengalahkan pasukan belanda.”
Fatih :”Tapi
bagaimana caranya mengalahkan tentara VOC? Dan bagaimana jika mereka panggil
bala bantuan?”
Reza :”Caranya, kita buat kerusuhan di Wanayasa. Lalu saat
para tentara datang kita sergap mereka di tengah jalan. Dengan begitu kita bisa
dengan mudah mengacak-acak rumah orang Belanda di Purwakarta dan menjarah
gudang senjatanya. Agar mereka tidak sempat memanggil bala bantuan, kita harus
menghabisi mereka semua dalam waktu yang singkat. Bagaimana?”
Ilham :”Usulan
Reza memang cermat. Kalau begitu Reno, kau kumpulkan semua orang besok pagi dan kita
laksanakan semua rencana kita.”
Reno :”Baik.”
Fatih :”Lalu bagaimana dengan pembagian tugas untuk besok?”
Ilham :
“(Cinta
butuh waktu~vierratale)Kemarin saya sudah
memerintahkan kepada si Reno untuk memimpin
tim yang menjaga istri dan anak kita selama di dalam hutan.”
Fatih : “Lalu bagaimana dengan tim pemberontak?”
Ilham :
“Bagaimana kalau kamu saja Reza yang pimpin?
Reza : “Baiklah, nanti Subuh-subuh saya akan menyiapkan
pasukan.”
Ilham : “Baiklah, rapat kita tutup sampai disini. Sekarang kita
berdoa saja agar besok semuanya lancar dan kembali ke rumah masing-masing,
paham?”
Semua peserta :” Paham.”
Song : …
Setelah itu, semua
orang kembali ke rumah masing-masing. Namun Ilham bersama dengan
istrinya masih saling berdiskusi, membicarakan tentang pemberontakan hari esok.
Tampaknya sang istri sangat mengkhawatirkan keselamatan suaminya. Namun sang
suami berusaha untuk menenangkannya.
Rana :
“Kang kamu tahu gak, aku tuh sebenarnya takut banget kalau besok aku nggak bisa
liat kamu lagi, muka kamu, dan senyum kamu yang unyu-unyu (demam
unyu-unyu~CJR) gantengnya gantengnya aku tergila-gila,
Unyunya, unyunya kau buat aku gila. Oh emak, oh abah, aku harus apa,
Sembuhkanlah aku dari demam unyu-unyu”
Ilham : “Tenang
saja neng, pemberontakkan besok pasti lancar kok.”
Rana : “Pokoknya akang gak boleh ninggalin aku titik!.”
Ilham :
“Nggak kok, akang gak akan ninggalin eneng. Masa sih akang tega ninggalin
seorang... (#eaaa~CJR)
kau bidadari jatuh dari genteng di sruduk banteng… nonggeng”
Rana : “Ah akang bisa aja.... Eneng jadi.. (malu tapi
mau ~ gitgut)aku maluu, tapi mauu, kusuka gayamu, tingkahmu, senyummu,
tapi ku maluu pada akang yang ganteng..”
Ilham :
“Yaudah sekarang mah kamu tidur aja. Kan besok kamu mau siap-siap buat
bersembunyi ke hutan.”
Rana : “Ok akang.”
Song : …
Scene 7 (Halaman rumah Ilham)
Keesokan harinya,
semua orang bersiap-siap. Para pria bersiap-siap dengan golok dan bambu
runcingnya. Sementara itu, para wanita dan anak-anak bersiap-siap untuk sembunyi
ke dalam hutan. Setelah itu, Ilham memerintahkan kepada semuanya agar segera berkumpul
untuk mengikuti briefing.
Ilham : “Semuanya cepat berkumpul! Tinggalkan dulu pekerjaan
kalian!”
Reno : “Lapor! Tim ekspedisi siap.”
Reza : “Lapor! Tim penyerang sudah siap.”
Ilham :
“Bagus kalau begitu. Sekarang semuanya perhatikan saya. Hari ini kita akan
melakukan pemberontakkan. Mungkin nantinya akan banyak yang terbunuh. Maka dari
itu, sekarang saya kasih kalian waktu sekitar 10 menit untuk saling mengucap
kata perpisahan sebelum kalian berpisah nanti.”
Semua orang:”Baik.”
Ilham : “Oke, dimulai dari sekarang!”
Semua orang saling
mengucapkan kata-kata perpisahan, antara suami kepada istrinya dan anak kepada
orang tuanya.
Fatih :
“Bu, aku pamit ya (ibu~sakha) oh ibu ku engkaulah wanita, yang
kucinta selama hidupku, maafkan anakmu bila ada salah, penuh pengorbanan tana
balas jasa..”
Deysta :
“Ibu pasti selalu mendoakan kamu nak. Yang terpenting sekarang.. (arti
sahabat~nidji) kamu tunjukkan pada dunia kalau kamu bisa! Kamu bisa menghancurkan pasukan
Belanda. Kemudian kamu… cepat pulang cepat kembali jangan pergi lagi.. (Firasat~Marcell) ”
Fatih : “Makasih bu. Semoga terlaksana semua. Amin.”
Deysta : “Oh iya, setelah selesai kamu harus langsung kabari ibu
ya!”
Fatih : “Itu pasti bu. Tenang saja, anak ibu yang satu ini
tidak akan mengecewakan ibu.”
Song : …
Beberapa saat
kemudian, Ilham memanggil semua
orang untuk berkumpul sekali lagi. Setiap komandan menyiapkan para pasukannya.
Dengan rasa was-was, Ilham merasa tidak
yakin akan menang melawan VOC, karena kalah jumlah. Namun ia bertekad, walaupun
kalah jumlah, namun semangat para petani luar biasa hebat.
Ilham : “(marilah kemari~titiek puspa)marilah kemari hey hey hey hey… semua..
Saya akan beri
beri beri beri pengarahan.”
Reno : “Lapor tim ekspedisi siap!”
Reza : “Lapor, tim penyerang siap!”
Ilham :
“ayo
kita semuaa doa duluu . Berdoa dimulai.”
Ilham : “Selesai. Ok semuanya ambil senjata kalian! Kita akan
menyerang musuh”
Semua : “Baik!”
Ilham : “Hei Reno kemari, saya
ingin berbicara.”
Reno : “Ada apa Ilham?”
Ilham :
“Tolong jaga mereka selalu! Jangan sampai
kau lengah, tunggu kita kembali!”
Reno :
“Jangan khawatir, saya dan kawan-kawan pasti menjaga mereka semua sampai semua
ini berlalu.”
Ilham :
“Ok semuanya, ikuti aba-aba dari saya! Reno, kau dan pasukanmu sekarang kawal mereka semua. Cepat
dimulai dari sekarang!”
Reno : “Baik. Hey kalian semua, cepat bergerak!”
Tim A : “Baik!”
Ilham : “Semuanya, lari!!! Kita serang para Belanda itu!”
Tim E : “Hooooooo.......”
Song : …
Scene 8 (Kantor Dalem Belanda)
Semua pasukan dengan
segera menyerang kantor Dalem dan kantor-kantor milik pemerintah Belanda.
Setelah itu, mereka langsung menuju rumah Sheper
Leau. Di sana, ia dihajar masa hingga meninggal. Kemudian, mayatnya oleh para
pemberontak dibuang ke sebuah hutan di daerah Cibeber yang sekarang dikenal
sebagai hutan Ciperlau. Di sana ada sebuah batu besar yang menandakan tempat
mayat Sheper Leau dibuang yang dikenal
sebagai batu tancleb.
Reza : “Semuanya.... Kita serang kantor Belanda!”
Pemberontak : “(Persib)yoo, ayoooooo...... kita serang belanda... Kuingin kita
harus menang…”
Fathoni : “Hei lihat di sana ada pasukan
Belanda! Ayo kitaaa, kita hajar mereka!”
Zidan : “He kijk! Het is hun!”
Mufa : “Aanval!!!”
Erwin : “Aaarrrggghhh.... Tolong!!!”
Fathoni : “Awas! Di sampingmu ada dua!”
Ubay : “Yaa!”
Reno
& Fatih :
“Mati lah kau!”
Ubay : “Aaaarrrgghhhh....”
Mufa : “Retour!!!”
Reza :
“ Hentikan tembak menembak! Simpan pelurumu! Sekarang kita serang rumah Sheper
Leau!”
Beberapa saat kemudian...
Scene 9 (Rumah Sheper Leau)
Ilham : “(Demi
tuhan~Arya Wiguna)Hey Sheper Leau, keluarlah… Kami sudah mengepungmu, ini semua sudah berakhir!
Sheper Leauu!!!”
Rafli : “(Yolanda~kangen band)
Sheper dimana? Cepat keluar! Atau
rumah ini akan dibakar! (2x)”
Ilham : “Semuanya, cepat dobrak pintunya!”
Fatih : “Hei, itu dia orangnya.”
Reno
& Fatih :
“Jangan banyak omong! Ayo kita habisi dia sekarang.”
Scene 10 (Hutan Ciperlau)
Ilham : “Hentikan! Ia sudah mati. Sekarang ayo kita buang
mayatnya ke hutan!”
Song : …
Setelah membuang mayat Sheper Leau, para
pemberontak melanjutkan aksinya dengan menyerang kantor-kantor VOC di
Purwakarta. Semuanya dihancurkan. Tidak ada satupun yang dilewatkan. Termasuk
penjara tempat para tawanan perang ditahan.
Reza :
“Semuanya, sekarang kita akan menyerang kantor dan penjara di kota, jadi
persiapkan mental kalian karena akan banyak musuh di sana.”
Tim
E : “Baik.”
Beberapa lama kemudian...
Tim
E : "Lihat ada musuh..... Serang!!!”
Mufa : “Hey ze komen
in, aanval!”
Ilham : “Jangan ampuni mereka, serang terus!”
Zidan : “Retour!”
Tim
E : “Horeeee.... Mereka mundur.”
Reza : “Sekarang kita serang kantor-kantor dan penjara.”
Song : …
Saat kerusuhan semakin
meluas, pemerintah karesidenan Purwakarta minta bantuan ke karesidenan Betawi.
Saat itu juga, VOC mengerahkan seluruh serdadunya dari karesidenan Cianjur dan
karesidenan Bandung. Pertempuran pun berlangsung sengit.
Para kaum pemberontak kalah persenjataan yang akhirnya mereka mundur ke daerah
Pasir Panjang (kalau sekarang Ranca Darah). Di sanalah, mereka semua dibantai
habis-habisan.
Ilham : “Semuanya, cepat kita mundur ke arah Wanayasa!!!”
Tim
E : “Ayoooo.....”
Zidan : “Krachten, jagen ze!”
Reno : “Aarrggghhh saya tertembak!”
Reza : “Reno bertahanlah, aku
akan segera menolong”
Ilham : “Sudahlah, kau… (Pergi
saja~Geisha)pergi saja kau
pergi Pimpin para pasukan jangan
pikirkan aku, aku tak apa-apa.”
Reza : “Tapi....”
Ilham : “Ah sudahlah, cepat pergi!”
Beberapa saat kemudian....
Scene 11 (Rumah Warga)
Reza : “Cepat lari, lari, lari!!!... Aaarrrggghhhh....”
Reno
& Fatih :
“Munduuuurrr... Cepat, kalau tak sempat bersembunyilah!”
Fathoni : “Ubay, percepat larimu! Kita sudah hampir sampai ke desa
Taringgul.”
Ubay : “Hei lihat! Di sana ada rumah warga. Ayo kita sembunyi di sana.”
Fathoni : “Baik. Permisi...”
Delia : “Oh nya sakedap. Bade naon?”
Ubay : “Ieu abdi bade nyumput tina kepungan pasukan walanda.
Punten ibu tiasa?”
Delia : “Oh nya sok atuh kalebet,
bilih kaburu aya pasukan walanda.”
Fathoni : “Punten bu tos ngaganggu.”
Delia : “Nya wios atuh. Keun weh ari
masalah eta mah ibu nu nanggung.”
Ubay : “Hatur nuhun bu.”
Beberapa saat
kemudian....
Penerjemah : “(Assalamualaikum)”
Delia : “Waalaikumsalam, ieu bapa-bapa
bade naon?
Penerjemah : “Wat wil je meneer in deze paats?”
Zidan : “Wat zie je iemand passeen
hirer in de buurt?”
Penerjemah : “(Sendiri~BCL) Apa eceu lihat seseorang lewat sekitar sini?
Delia : “Henteu.”
Penerjemah : “Niet.”
Zidan : “Ok als je hem ziet, laten we
verslag van onze.”
Penerjemah : “Baik, jika ibu melihat mereka, segera laporkan pada kami.”
Delia : “Oh muhun. Kin ku abdi
dilaporkeun.”
Penerjemah : “(Terimakasih
Cinta-Afgan) Terimakasih ibu, tuk informasinya. Kami pamit dulu,
sampai jumpa lagi”
Delia : “Oh muhun.”
Ubay : “Kumaha bu, lancar?”
Delia : “Alhamdulillah lancar.
(gaya
syahrini)”
Fathoni : “Oh sukur atuh ari kitu mah. Hatur nuhun bu.”
Delia : “Sawangsulna.”
Song : …
Scene 12 (Gang Bah Kecil)
Sejak saat itu mereka
berdua tinggal di daerah tersebut sampai meninggal. Sampai sekarang di Wanayasa
ada nama jalan yang dinamakan Gang Kecil, diambil dari nama Babah orang Cina
namanya Bah Kecil. Lalu ada lagi nama pintu gerbang di Kampung Cileungsing Timur
di jalan yang ke arah Pasiraga Cina. Pintu tersebut bertuliskan bahasa Cina
yang artinya Pintu Gerbang.
Kejadian perang
tersebut sampai sekarang dinamai Rancadarah, sebagai pengingat banyaknya darah
rakyat akibat ditembak oleh pasukan VOC.
Backsong : (sambasunda)
-TAMAT-
- 1. Afina Nuryati Rachman : Divisi Dekorasi
- 2. Ajeng Larasati Putri : Penanggung Jawab Utama ( Sutradara)
- 3. Al-Ubaidah Pratama T : Petani 11
- 4. Anindya Gayuh Pangestu S : Divisi Dekorasi + Musik
- 5. Annisa Nur Ridho : Divisi Dekorasi
- 6. Bagus Akhlaq : Divisi Dekorasi + Musik + Mufa
- 7. Bella Mudiniyanti : Anak + Divisi Tatarias
- 8. Deysta Nursya’bani Putri : Divisi Tatarias dan Busana
- 9. Erwin Togar Sitorus : Petani 7
- 10. Fathoni Zul Majid : Petani 6
- 11. Fitria Anggraeni : Istri Petani
- 12. Fitriyyah Afifah Suparta : Petani 9 + Penanggung Jawab divisi pemain
- 13. Kevin Arviansa : Petani
- 14. M. Alfatih : Petani 2
- 15. Moch. Rivaldi Cahya Saragih : Sheper Leau
- 16. Mufadillah Hermasnyah : Penanggung Jawab Naskah
- 17. Muhammad Agung Razak : Petani 12 + Divisi Dekorasi
- 18. Muhammad Rafli : Petani 4
- 19. Muhammad Zidan Eka Atmaja : Perwira VOC
- 20. Nurul Amalia : Warga + Divisi Dekorasi
- 21. R. Dewi Citra Amalia : Assistant Penanggung Jawab (Astrada)
- 22. R. M. Ilham Margarana : Petani 3
- 23. Rana Salsabila : Istri Petani 3
- 24. Reno Andrian : Petani 1
- 25. Reza Eka Pangestu : Petani 5
- 26. Rizqa Shafira Ahnaf : Istri Petani
- 27. Rohmah Mardiah : Divisi Musik
- 28. Sandra Ferina : Divisi Dekorasi
- 29. Sembara Tresna Nugraha : Penanggung Jawab Naskah
- 30. Tiffany Hana Lestari : Divisi Tatarias dan Busana
- 31. Tommy Ahmad Faisal : Pengawas
Pembagian Divisi
·
Divisi Utama
Sutradara : Ajeng
Astrada : Citra
Naskah : Mufa & Sembara
·
Divisi Musik
Anggota :
1. Anindya Gayuh
2. Bagus
3. Fitriyyah Afifah
4. Kevin
5. Rohmah
·
Divisi Dekorasi
Anggota :
1. Annisa
2. Bagus
3. Agung Razak
4. Afina
5. Nurul Amalia
6. Sandra
·
Divisi Tatarias
dan Busana
Anggota :
1. Bella
2. Deysta
3. Rizqa
4. Tiffany
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
sopanlah dalam berkomentar :)